Ketela pohon atau lebih dikenal dengan singkong merupakan tanaman yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, baik oleh masyarakat yang tinggal di Desa maupun yang tinggal di kota. Khusus bagi masyarakat yang tinggal di desa, tanaman singkong hampir menjadi tanaman wajib yang harus ditanam karena digunakan sebagai sumber pangan, selain beras dan jagung serta jenis umbi-umbian yang lain. Kelebihan tanaman singkong dinbadingkan dengan jenis tanaman pangan lainnya, adalah pada cara budidayanya lebih mudah dan praktis.  Cara budidayanya sangat sederhana, tidak memerlukan cara pengalahan tanah secara khusus, demikian pula dengan pemupukannya.  Namun demikian hasilnya akan lebih baik bila dibudidayakan dengan baik, misalnya dilakukan pengolahan tanah yang baik dan diberikan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya. Dapat tumbuh dengan baik mulai dari wilayah pesisir sampai daerah pegunungan di dataran tinggi.

Wilayah target dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, merupakan daerah pesisir dengan komoditas utama tanaman kelapa lokal yang telah berumur lebih dari 20 tahun. Jarak yang longgar antara batang tanaman kelapa dimanfaatkan oleh sebagian besar petani yang bertempat tinggal di daerah tersebut diusahakan dengan berbagai tanaman pangan, seperti jagung, kacang tanah, dan sayuran dataran rendah seperti terung dan kacang panjang.  Namun diantara tanaman pangan yang diusahakan diantara pohon kelapa yang paling dominan adalah tanaman singkong.  Disamping di lahan-lahan sekitar perkebunan tanaman kelapa lokal yang masih kosong juga petani mengusahakan dengan tanaman singkong.

Bahkan jumlah petani yang mengusahakan tanaman singkong, di Desa Pasar Pedati tersebut dibentuk Kelompok Tani yang khusus mengusahakan tanaman singkong. Anggotanya cukup banyak dengan total luas lahan yang ditanami singkong mencapai 25 hektar. Sebelum masa pademi, petani sudah memperoleh penghasilan yang memadai dengan menjual hasil singkongnya langsung kepada pengumpul.  Harga di tingkat pengumpul produk segar mencapai Rp 4000/kg, demikian pula dengan produk olahannya seperti opak dan “balung kethek” pasarnya sangat bagus. Akan tetapi sejak masa pandemi permintaan pasar akan hasil singkong maupun olahannya sangat menurun. Bahkan saat ini harga di tingkat petani antara Rp 1500-Rp 2000 per kg, itupun tidak ada pengumpul yang membeli, kecuali hanya sedikit. Demikian pula dengan produk olahannya.

Berdasarkan fenomena ini, dapat dipandang sebagai tantangan, sebab di satu sisi memiliki potensi yang besar, namun di sisi yang lain petani belum dapat memanfaatkan potensi tersebut.  Perlu inovasi dan teknologi dalam upaya memanfaatkan potensi produk singkong yang saat ini kurang memberikan nilai ekonomi bagi petani, antara lain dengan upaya meningkatkan mutu dan nilai tambah pada produk olahan singkong.

Kegiatan ini dilkukan oleh kelompok pengabdi mahasiswa S2 yang dipimpin oleh Evan Dwi Septa Nugraha yang dibimbing oleh Prof. Ir. Widodo, M.Sc. Ph.D., Dr. Ir. Prasetyo, MS dan Dr. Ir. Sumardi.